Minggu, 17 Mei 2026

PANDUAN DAN CARA MENULIS BEST PRACTICE DENGAN MODEL START (CONTOH TEMPLATE SIAP SALIN)


PANDUAN DAN CARA MENULIS BEST PRACTICE DENGAN MODEL START
BEST PRACTICE MODEL START 


Penulis    : Kurniawan
Pengawas Sekolah/Penjamin Mutu

Menulis Artikel Karya Ilmiah (Karil) atau Best Practice untuk ajang perlombaan sering kali menjadi tantangan besar karena alur berpikir yang cenderung melebar dan tidak fokus. 

Banyak guru terjebak pada rumusan masalah yang abstrak, sehingga sulit menuangkan gagasan tersebut ke dalam bentuk tulisan yang runtut dan mudah dipahami oleh pembaca.

Agar Karil Anda memiliki arah yang jelas, berdampak, dan mudah dieksekusi, Anda dapat menggunakan metode START dalam merumuskan draf dan struktur penulisan Anda:

  1. Situation (Situasi): Memetakan kondisi awal di lapangan, termasuk menganalisis kesenjangan antara kondisi ideal dengan realitas yang terjadi.

  2. Task (Tugas & Tantangan): Merumuskan tujuan utama, tanggung jawab profesi, serta mengidentifikasi hambatan nyata yang harus dihadapi.

  3. Action (Aksi): Menguraikan langkah-langkah konkret, strategi inovatif, dan tahapan model pembelajaran/pendampingan yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah.

  4. Result (Hasil): Menyajikan dampak positif, pencapaian angka/data riil, serta perubahan nyata yang terjadi setelah aksi dilakukan.

  5. Transferability  (Tindak Lanjut): Merumuskan refleksi akhir, rencana keberlanjutan program, serta bagaimana praktik baik ini bisa diadaptasi oleh sekolah atau guru lain.

Sebagai gambaran nyata bagaimana metode START ini diintegrasikan secara utuh untuk membenahi kurikulum sekolah, berikut adalah contoh draf artikel praktik baik yang telah saya susun.

Contoh Template Best Practice ini dapat Anda jadikan referensi model penulisan ilmiah yang aplikatif, sistematis, dan kontekstual.


Contoh Judul : “TEMPLATE KURIKULUM HIDUP DARI LEMARI KE AKSI NYATA”

A. Pendahuluan

1. Situation (Situasi)

a. Kondisi Ideal Kurikulum

Dalam kondisi ideal, kurikulum berfungsi sebagai pedoman utama bagi guru dalam mengajar, pengarah kegiatan belajar, dan sarana mewariskan nilai budaya serta membentuk peserta didik menjadi pribadi yang beriman, berintegritas, cerdas, dan bertanggung jawab.

Kurikulum juga berperan strategis dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan tantangan kehidupan di masa depan. Dengan demikian, keberadaan kurikulum seharusnya menjadi kompas arah kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.

b. Hasil Pendampingan

Hasil Pendampingan melalui observasi langsung, studi dokumen dan wawancara dengan kepala satuan pendidikan, menunjukan bahwa sekolah di binaan penulis sebanyak 17 sekolah yang tersebar di dua kecamatan yakni 10 sekolah di Kecamtan Bunga Mayang dan 7 sekolah di Sungkai Selatan belum mampu menghadirkan kurikulum sebagai dokumen hidup.

Kurikulum sekolah sering kali hanya berfungsi sebagai pelengkap administrasi dan penghias lemari dokumen, bukan sebagai pedoman regulatif dalam penyelenggaraan pembelajaran. 

Bahkan ada sekolah yang belum memiliki dokumen kurikulum yang lengkap, dan jika pun ada yang lengkap, penyusunannya sering dilakukan sekadar untuk memenuhi kewajiban administrasi tanpa mempertimbangkan visi, kondisi riil, dan karakteristik sekolah. 

Akibatnya, kurikulum kehilangan makna sebagai penggerak arah kebijakan pendidikan dan tidak memberi dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.

c. Akar Masalah

Permasalahan ini berakar pada rendahnya pemahaman kepala sekolah dan pendidik terhadap hakikat kurikulum sebagai instrumen penggerak mutu sekolah. Banyak tim pengembang kurikulum belum memahami langkah-langkah sistematis dalam penyusunannya.

Di samping itu, masih kuatnya pola pikir lama, yang cenderung pasif dan menerima hasil dari sekolah lain tanpa melakukan adaptasi dan refleksi menyebabkan kurikulum hanya menjadi hasil salin-tempel tanpa makna kontekstual. 

Akibatnya, visi satuan pendidikan tidak dijabarkan secara operasional dalam kurikulum, sehingga tidak menjadi arah nyata bagi pelaksanaan pembelajaran.

d. Solusi Kesenjangan Masalah

Berangkat dari kondisi tersebut, dibutuhkan sebuah solusi praktis yang mampu menumbuhkan kesadaran baru di kalangan pendidik dan tim pengembang sekolah bahwa kurikulum bukanlah sekadar dokumen wajib, melainkan harus hidup dan bergerak sebagai kebijakan dan regulasi kegiatan di sekolah. 

Salah satu solusi yang dilakukan oleh penulis adalah penyusunan Template Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP), yang penulis beri judul “Template Kurikulum Hidup Dari Lemari Ke Aksi Nyata’ Template ini dirancang penulis untuk memudahkan tim pengembang dalam menyusun kurikulum secara kontekstual dan terarah.

Template ini juga diharapkan dapat membangun mindset bertumbuh (growth mindset) di kalangan guru dan kepala sekolah, bahwa kurikulum harus terus diperbarui dan dikembangkan seiring perkembangan zaman dan kebutuhan satuan pendidikan. Dengan demikian, kurikulum benar-benar menjadi instrumen hidup yang menuntun sekolah menuju peningkatan mutu secara berkelanjutan

2. Task (Tugas, Tujuan dan Tantangan )


a. Tugas Sebagai Pengawas Satuan Pendidikan

Sebagai Pengawas Sekolah, penulis memiliki tugas dan tanggung jawab dalam memastikan bahwa seluruh sekolah binaan melaksanakan fungsi kurikulum secara optimal, bukan hanya sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai pedoman arah kebijakan pembelajaran dan penggerak mutu pendidikan di sekolah.

Dalam menjalankan tugas pendampingan terkait kurikulum, penulis menemukan kenyataan bahwa sebagian besar sekolah binaan belum memahami hakikat kurikulum sebagai dokumen hidup. 

Kurikulum yang dimiliki sekolah cenderung hanya disusun sebagai kewajiban administratif sekolah, selanjutnya disimpan di lemari tanpa pernah menjadi acuan nyata dalam kegiatan pembelajaran.

Berangkat dari tanggung jawab penulis, sebagai pengawas profesional dan kepedulian penulis terhadap mutu pendidikan di sekolah binaan, maka penulis merasa perlu menghadirkan solusi inovatif yang dapat membantu sekolah menghidupkan kembali fungsi kurikulum. 

Dari sinilah lahir ide penulis untuk menyusun panduan praktis yang diberi judul “Template Kurikulum Hidup dari Lemari ke Aksi Nyata.”

Karya yang disusun oleh penulis ini menjadi wujud nyata dan komitmen penulis, untuk menjalankan peran sebagai pendamping dan penggerak perubahan dalam penjamin mutu satuan pendidikan. Agar setiap sekolah mampu memiliki kurikulum yang kontekstual, terukur, dan berdampak langsung terhadap pembelajaran.

b. Tujuan

Tujuan penulis menyusun “Template Kurikulum Hidup dari Lemari Ke Aksi Nyata”, secara umum adalah sebagai panduan praktis bagi sekolah dalam menyusun dan menghidupkan kembali kurikulum satuan pendidikannya. Secara khusus Tujuan terdiri dari :
  1. Mensosialisasikan dan menerapkan model “Template Kurikulum Hidup dari Lemari ke Aksi Nyata” di sekolah binaan sebagai upaya mewujudkan kurikulum yang kontekstual dan berfungsi sebagai pedoman nyata dalam pembelajaran.

  2. Memperkenalkan prinsip SMART dalam perumusan tujuan visi sekolah, sehingga satuan pendidikan mampu menetapkan program dan target capaian yang terukur dalam satu tahun pembelajaran.

  3. Mendeskripsikan penerapan Taksonomi SOLO sebagai acuan dalam penyusunan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman peserta didik.

  4. Mendorong pemahaman mendalam terhadap karakteristik lingkungan satuan pendidikan, agar sekolah mampu memanfaatkannya dalam merancang strategi pencapaian 8 Dimensi Profil Lulusan secara terarah dan berkelanjutan.

c. Tantangan yang di Hadapi

Tantangan penulis di lapangan, bukan hanya pada factor geografis dengan kondsi jalan menuju sekolah dampingan. Tetapi yang lebih utama adalah :
  1. Sekolah tidak memiliki arah kebijakan pembelajaran yang jelas dan terarah.

  2. Kepala sekolah selaku pemimpin pembelajaran belum memahami keterkaitan antara visi, misi, dan tujuan sekolah dengan perencanaan pembelajaran yang kontekstual.

  3. Budaya refleksi dan tindak lanjut kurikulum belum terbentuk, sehingga pelaksanaan pembelajaran berjalan tanpa arah terhadap pengembangan mutu.

  4. Keterbatasan kompetensi dalam merumuskan tujuan SMART dan pendekatan pembelajaran mendalam menyebabkan kurikulum tidak selaras dengan karakteristik satuan penddikan, kebutuhan siswa maupun profil lulusan yang diharapkan.

B. Isi Pembahansan

3. Action (Tindakan yang Dilakukan )

Tindakan dilakukan penulis adalah menggunakan model Inkuiri Kolaboratif, langkah-langkah yang ditempuh oleh penulis adalah sebagai berikut :

Tahap I: Mengidentifikasi

Tahap awal dilakukan dengan menganalisis kondisi nyata di sekolah binaan melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen kurikulum yang ada. Hasilnya menunjukkan bahwa sekolah telah memiliki dokumen kurikulum, namun kenyataannya hanya digunakan sebagai pelengkap administrasi, belum menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran.

Dari hasil analisis tersebut, penulis mengidentifikasi kebutuhan sekolah terhadap panduan praktis penyusunan kurikulum yang mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan sesuai karakteristik satuan pendidikan.

Tahap II: Desain (Merancang Template Kurikulum Hidup)

Berdasarkan hasil asesmen kebutuhan, penulis kemudian merancang template kurikulum hidup dengan struktur yang sederhana namun komprehensif. Template ini memuat komponen-komponen utama, yaitu:

a. Karakteristik Satuan Pendidikan

Mencakup seluruh karakterisitik baik internal amaupun eksternal) yang semua karakter tersebut diintegrasikan dalam strategi pembelajaran dan kebutuhan siswa dalam mencapai Integrasi 8 Dimensi Profil Lulusan.

b. Visi, Misi dan Tujuan
  1. Mengarah pada turunan visi Nasional yang tertuang dalam undang – undang sisdiknas no 20 tahun 2003 pasl 3.

  2. Indikator visi mengarah pada permendikdasmen no 10 tahun 2025 untuk ketercapian 8 profil lulusan

  3. Tujuan visi menggunakan tujuan SMART

c. Organisasi Pembelajaran dan Evaluasi
  1. Menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam (Deep Learning)

  2. Rujukan Taksonomi SOLO dalam penyusunan tujuan pembelajaran

  3. Terlaksananya siklus inkuiri pada pembelajaran kokurikuler

  4. Terlaksananya inkuiri Pendampingan

Tahap III. Implementasi (Pelaksanaan)

Pada saat pelaksanaan kegiatan, penulis melakukan dengan menggunakan 2 (dua) tahapan yaitu :
  1. Sosialisasi dan latihan penyusunan draft kurikulum menggunakan template. 

    Dikarnakan jarak tempuh perjalanan di sekolah binaan cukup jauh +/-40 km atau sekitar 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor, maka strategi yang dilakukan dalam melakukan pendampingan dilakukan secara berkelompok (letak sekolah yang berdekatan) paling banyak 3 sekolah untuk menjaga efektifitas kegiatan.
    Kegiatan pendapingan dengan cara mensosialisasikan setiap tahapan yang terdapat pada template kurikulum hidup. Setelah konsep mereka memahami selanjutnya sekolah melakukan RTL dengan menyusun draft kurikulum bersama tim pengembang di sekolah masing – masing. (foto kegiatan terlampir)

  2. Pendampingan Review dan Revisi Draft Kurikulum

    Kurikulum yang sudah disusun oleh tim pengembang sekolah, selanjutnya dilakukan pendampingan dengan cara mereview dan merevisi dari draft Kurikulum yang dilaksanakan di sekolah masing – masing. (foto kegiatan terlampir)

Tahap IV. Pengukuran (Evaluasi, Refleksi dan Tindak Lanjut)

a. Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa inovasi berjalan sesuai tujuan, yaitu:
  1. Sekolah memiliki kurikulum yang hidup dan kontekstual,

  2. Tujuan visi dan misi sekolah dirumuskan menggunakan model SMART,

  3. Pembelajaran berorientasi pada 8 dimensi profil lulusan, dan

  4. Terbentuk budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan.

b. Refleksi

Refleksi dilakukan bersama seluruh pemangku kepentingan kepala sekolah, guru, dan pada sekolah binaan untuk mengkaji kembali proses implementasi, hambatan yang dihadapi, serta pembelajaran yang diperoleh selama pelaksanaan inovasi. Melalui refleksi, ditemukan beberapa hal penting:
  1. Template kurikulum mempermudah guru dalam memahami keterkaitan antara visi, tujuan pembelajaran, dan praktik di kelas;

  2. Keterlibatan guru dalam proses penyusunan meningkatkan rasa memiliki terhadap kurikulum;

  3. Sekolah mulai menyadari pentingnya evaluasi tahunan terhadap kurikulum sebagai bagian dari siklus peningkatan mutu.

Refleksi ini dilakukan secara kolaboratif dan terbuka, dengan semangat saling belajar dan memperbaiki praktik agar kurikulum benar-benar hidup dan kontekstual.

c. Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi, penulis menyusun rencana tindak lanjut untuk memastikan keberlanjutan inovasi, meliputi:
  1. Penyempurnaan template kurikulum berdasarkan masukan dari sekolah dan pengguna.

  2. Diseminasi hasil inovasi ke sekolah-sekolah di luar binaan melalui kegiatan kolaboratif antar pengawas.

  3. Mendorong sekolah melakukan revisi dan pembaruan kurikulum setiap tahun, dengan menjadikan refleksi tahunan sebagai budaya mutu.

  4. Penguatan komunitas belajar pengawas dan kepala sekolah sebagai wadah berbagi praktik baik dan saling mendukung penerapan template kurikulum hidup.
d. Penutup

4. Result (Hasil)

Hasil nyata “Template Kurikulum Hidup dari Lemari Ke Aksi Nyata”, pada sekolah dampingan diantaranya adalah :
  1. Memiliki kurikulum hidup yang kontekstual disusun secara partisipatif berdasarkan karakteristik sekolah, potensi lokal, dan kebutuhan peserta didik.

  2. Memiliki kurikulum yang berorientasi pada tujuan visi yang SMART sebagai dasar dalam penyusunan program tahunan dan target capaian yang dapat diukur dalam satu tahun pembelajaran

  3. Memiliki kurikulum tidak lagi menjadi dokumen pasif di lemari, melainkan menjadi pedoman utama regulasi dan arah pembelajaran di sekolah berdasarkan kebutuhan dan tingkat pemahaman murid melalui penerapan taksonomi SOLO.

  4. Memiliki kurikulum yang memanfaatkan karakteristik lingkungan sekolah, untuk merancang strategi dalam pencapaian 8 profil lulusan secara terarah dan berkelanjutan.

Untuk melengkapi dokumen ini, Anda juga bisa mengunduh :