![]() |
| PELAKSANAAN REMEDIAL DAN PENGAYAAN |
Pengawas Sekolah/Penjamin mutu
Asesmen
memberikan informasi yang bermakna bagi peserta didik dan orang tua untuk
memandu pemilihan strategi pembelajaran.
Asesmen juga merupakan potret hasil
ketercapaian pembelajaran yang digunakan sebagai alat refleksi dalam
memperbaiki pembelajaran.
Untuk
menindaklanjuti hasil asesmen, bagi siswa yang belum tuntas maka dilakukan
remedial dan bagi siswa yang sudah tuntas maka dilakukan pengayaan.
A. Tujuan Remedial dan Pengayaan
Tujua remedial bukan hanya untuk
perbaikan nilai, tetapi untuk meningkatkan capaian belajar murid. Dengan
demikian, remedial tidak dilakukan dengan memberikan soal atau tugas semata,
melainkan dengan memberikan pendampingan kepada murid untuk mempelajari kembali
kriteria-kriteria tujuan pembelajaran yang belum tercapai.
Sedangkan pengayaan dapat dilakukan
dengan memberikan tantangan yang berbeda dengan tingkat kompleksitas yang lebih
dari murid yang lain.
Pengayaan bukan berarti murid diberi soal yang lebih
sulit, tetapi untuk mempertajam dan memperluas pengetahuan murid dengan
berbagai referensi.
B. Pengertian Remedial
Pada dasarnya remedial bersifat menyembuhkan atau membetulkan atau membuat menjadi lebih baik. Bisa juga kita artikan bahwa pembelajaran remedial adalah layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan .Jadi bisa kita simpulkan bahwa untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas masing-masing peserta didik dalam menguasai materi Pelajaran
Bagaimana dengan yang sudah tuntas ?
Yang sudah tuntas (katagori baik) guru tidak lagi melakukan remedial alasannya karena siswa sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP).
Pengayaan merupakan
pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan pembelajaran
baru bagi peserta didik yang memiliki kelebihan sehingga mereka dapat
mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya.
Pembelajaran pengayaan memberikan peserta pelayanan didik yang kepada memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya
D. Ketercapaian dan Tindak Lanjut
Untuk mengetahui apakah siswa tersebut mendapatkan remedial atau tidak dan atau mendapatkan pengaykan makan bisa dilihat pada tabel contoh rentang penilaian atau interval
Disini saya buatkan 2 contoh pembanding tabel, apa fungsinya. Sebagai pembanding dalam kita menetukan kriteria ketuntasan.
Tabel 1. Ketercapaian dan Tindak Lanjut
Asesmen (Contoh Interval 1)
|
Interval |
Ketercapaian dan Tindak Lanjut |
|
0 - 20 |
Belum mencapai tujuan pembelajaran.
Pendidik menanyakan kepada murid tantangan apa yang mereka hadapi
(perlu remedial dengan mempelajari kembali seluruh
kriteria). |
|
21 - 40 |
Belum mencapai tujuan pembelajaran,
perlu remedial dengan mempelajari kembali sebagian besar
kriteria. |
|
41 - 60 |
Hampir mencapai tujuan pembelajaran,
perlu remedial dengan mempelajari kembali kriteria yang
diperlukan. |
|
61 - 80 |
Sudah mencapai tujuan pembelajaran. |
|
81 - 100 |
Sudah mencapai tujuan pembelajaran,
perlu tantangan lebih (pengayaan). |
Untuk membuat tabel rentang bisa di baca lebih lanjut dalam blog ini Analisis Evaluasi Pembelajaran
Berdasarkan tabel 1 interval tersebut dapat dilihat pada rentang nilai 20 – 40 mendapat tindaklanjut remedial, sedangkan nilia 61 – 80 termasuk katagori tuntas dan nilai 81 – 100 mendapat tindaklanjut pengayaan.
Selanjutnya pada tabel ke 2. Sebagai contoh sekolah sudah menyepakati dan ditetapkan angka 59 sebagai angka minimal maka rentang yang kita buat sebagai berikut:
Tabel 2 Ketercapaian dan Tindak Lanjut
Asesmen (Contoh Interval 2)
|
Interval |
Ketercapaian dan Tindak Lanjut |
|
< 59 |
Belum mencapai tujuan pembelajaran.
Pendidik menanyakan kepada murid tantangan apa yang mereka hadapi
(perlu remedial dengan mempelajari kembali seluruh
kriteria). |
|
60 - 69 |
Belum mencapai tujuan pembelajaran, (perlu remedial) dengan
mempelajari kembali sebagian besar kriteria. |
|
70 - 79 |
Hampir mencapai tujuan pembelajaran, (perlu remedial) dengan
mempelajari kembali kriteria yang diperlukan. |
|
80 - 89 |
Sudah mencapai tujuan pembelajaran. (Tidak
Remedial) |
|
90 - 100 |
Sudah mencapai tujuan pembelajaran,
perlu tantangan lebih (Pengayaan). |
Setelah kita mengetahui rentang nilai, untuk menetukan murid mendapatkan remedial, atau tidak atau mendapatkan pengayaan. Maka selanjutnya menyusu program remedial dan pengayaannya.
Baca juga : RPP- Kokurikuler Kurikulum Merdeka dan Implementasinya
E. Contoh Analisis Ketercapaian Tujuan Pembelajaran
Setelah guru melakukan
analisisi penilian, guru tersebut memetakan mana murid yang mendapatkan
remedial, mana yang tidak dan mana yang mendapatkan pengayaan.
Untuk lebih memudahkan
pemahaman, maka perhatikan ilustarsi analisis penilian yang dilakukan oleh guru.
Guru melakukan Penilaian hasil belajar dalam
Menyusun laporan, mengunakan pendekatan dengan tabel 1, Ketercapaian dan
Tindak Lanjut Asesmen.
Seseorang murid Bernama zaym mendapat nilai dari hasil Menyusun laporan akir dari observasi yang dilakukan tertuang dalam rubrik di bawah :
|
Kriteria Ketercapaian |
Belum muncul pada
bagian pembuka, isi, dan penutup (1) |
Muncul pada salah
satu unsur (2) |
Muncul pada dua
unsur (3) |
Muncul pada tiga unsur (4) |
Muncul pada pembuka, isi, dan
penutup serta menambahkan rekomendasi (5) |
|
Laporan menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut |
|
|
|
V |
|
|
Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas. |
|
|
|
V |
|
|
Laporan menceritakan pengalaman secara jelas. |
|
|
|
V |
|
|
Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan
argumen yang logis sehingga dapat |
|
V |
|
|
|
Data dari rubrik tersebut di atas:
Zaym memperoleh 3 kriteria
pada bobot 4, dan satu kriteria berada pada bobot 2.
Oleh karena itu, pendidik
dapat menghitung 3x4 = 12, ditambah
2x1 = 2. Jadi, 12+2 = 14.
Karena Laporan tersebut di
nilai dengan 4 kriteria dan skalanya
intervalnya ada 5 sehingga jumlah pembagi adalah 20.
Jadi, jumlah nilai = 14 : 20
x100 = 70. Dengan demikian, Zaym mendapat nilai 70. Dengan menggunakan interval
nilai di atas, pada contoh interval 1 zaym berada pada posisi interval 61-80
baris ke 4 (Tujuan pembelajaran tercapai) tidak perlu remedial dan
juga tidak dilakukan pengayaan
Jika guru tersebut menggunakan contoh interval 2, Maka posisi
Zaym berada antara rentang 70 – 79 baris ke 3 dengan posisi (Hampir
mencapai tujuan pembelajaran, (perlu remedial) dengan
mempelajari kembali kriteria yang diperlukan.)
F. Kelebihan dan kekurang dari 2 Interval contoh di atas
Jika kita menggunakan
interval contoh 1, maka Zaym pada posisi tuntas dalam menyusun laporan tugas
proyeknya (tidak mendapatkan remedial)
coba bandingkan jika guru
tersebut menggunakan contoh interval nilai pada tabel 2 maka zaym dinyatakan
tidak tuntas dalam menyusun laporan (mendapat remedial)
Apa yang disini bisa kita
lihat dan menjadi catatan !
Jika kita lihat dari 2
cpntoh katagori interval tersebut, maka interval kedua akan menghasilkan
lulusan lebih matang dalam penguasaan materi, dan lebih banyak peluang dalam
kompetensi.
Dibandingkan pada contoh
tabel interval 1, Tingkat kompetensi lulusan kemungkinan akan kalah dalam
peluang dan kematangan materi. Karena pada contoh tabel interval 2 nilai 70 masih belum tuntas (mendapatkan
remedial). Dengan begitu anak terus didorong untuk lebih menguasai materi, ini
yang sering terjadi di;lapangan.
Contoh sederhana jika murid akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan skor rata2 rapor atau nilai baiknya 80 - 89, maka peluang untuk kelas interval ke dua lebih besar diterima, karena nilai 80 adalah standar
ketuntasan, di bandingkan standar ketuntasan pada tabel interval
pertama nilai baiknya 70 - 79..
Menetapkan rentang
interval ketuntasan yang lebih tinggi (misalnya 80) memang merupakan langkah
strategis agar lulusan memiliki daya saing yang kuat dan tidak kesulitan saat
berkompetisi di jenjang pendidikan berikutnya.
Namun, perlu diperhatikan
sekolah harus menyadari bahwa standar tinggi ini tidak boleh sekadar menjadi
ajang 'katrol nilai' di atas kertas.
Di sinilah letak peran
vital program remedial dan pengayaan. Standar nilai yang tinggi harus dikawal
dengan proses pendampingan (remedial) yang nyata bagi yang tertinggal, serta
tantangan (pengayaan) yang bermakna bagi yang sudah mahir, sehingga nilai 80
yang tertera di rapor benar-benar mencerminkan kompetensi aktual siswa."
G. Langkah – Langkah dalam melaksanakan Remedial
Langkah-langkah dalam pelaksanaan pengajaran remedial adalah sebagai
berikut :
1. Mengidentifikasi Permasalahan pembelajaran:
a) permasalahan pada keunikan peserta
didik,
b) permasalahan pada materi ajar
c) permasalahan pada Strategi pembelajaran,
2. Perencanaan
Dengan melihat bentuk kebutuhan dan tingkat kesulitan yang dialami peserta didik guru akan perlu menyiapkan media pembelajaran, contoh-contoh dan alternatif aktifitas, dan menyiapkan materi serta alat pendukung yang mungkin diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan pengajaran remedial
3. Waktu ;
Kapan remedial akan dilaksnakan
4. Pelaksanaan Kegaiatan
dalam melaksanakan remedial terdapat
tiga kegiatan fokus penekanan yang dilakukan yaitu: penekanan pada keunikan
peserta didik, penekanan pada alternatif contoh
dan aktivitas terkait materi ajar dan penekanan pada strategi/metode
pembelajaran,
5. Penilaian otentik,
penilaian ini dilakuukan setelah
pengajaran remedial selesai dilaksanakan
H. Contoh Program Remedial
Setelah kita tahu Langkah – Langkah
dalam Menyusun program remedial, maka selanjutnya Menyusun program remedial. berikut contoh program remedial yang dapat di gunakan,
silahkan copy:
1. Contoh : KEGIATAN PROGRAM REMIDIAL
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia (Contoh)Materi / Tema : Menyusun Teks Laporan Investigasi / Kausalitas
Kelas :
|
Tujuan
Pembelajaran |
Indikator
Tujuan Pembelajaran/ Kriteria TP |
Remidial |
|
Metode |
||
|
Siswa dapat : Menyusun teks laporan yang menjelaskan hubungan
kausalitas (sebab-akibat) yang logis disertai dengan argumen yang kuat untuk
meyakinkan pembaca.
|
Laporan menjelaskan
hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga
dapat meyakinkan pembaca. |
a.
Metod Pembelajaran Bimbingan
bertaahap dan Peta Konsep
b. Langkah
– Langkah kegiatan 1.
Guru menyederhanakan penjelasan tentang
"kausalitas" (sebab-akibat) menggunakan contoh kejadian
sehari-hari. 2.
Siswa diberikan lembar peta konsep sebab-akibat
yang kosong. 3.
Siswa berlatih mengisi peta konsep tersebut
sebelum mulai menulis kalimat panjang 4. Guru melakukan pendampingan individu saat siswa mengubah peta konsep menjadi teks laporan. c.
Permasalahan siswa kesulitan merangkai kata dan mudah kehilangan fokus jika langsung diminta menulis teks panjang. d. Akar
masalah 1. Konsep masih
abstrak dan sulit dibedakan dengan opini pribadi oleh siswa 2. Pengajaran
sebelumnya terlalu fokus pada teori teks, kurang memberikan kerangka/bantuan
visual bagi siswa yang lambat memahami.
e. Proses
Pelaksanaan 1. Siswa
mengamati contoh 1 paragraf laporan kausalitas sederhana (misal: topik
"Penyebab Banjir"). Guru membedah mana bagian sebab, mana akibat,
dan mana argumennya. 2. Siswa
mempraktikkan pengisian bagan "Sebab -> Akibat ->
Bukti/Argumen" dengan topik yang mereka pilih sendiri (agar lebih
relevan dengan minat mereka) 3. Siswa
merangkai isi bagan tersebut menjadi laporan singkat (1-2 paragraf saja).
Guru berkeliling memberikan perbaikan langsung (direct feedback).
d. Penilaian
Otentik : Bentuk
Penilaian: Penilaian Kinerja / Praktik Menulis (Portofolio hasil revisi
laporan). |
2. Contoh : KEGIATAN PROGRAM PENGAYAAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia (Contoh)Materi / Tema : Menyusun Teks Laporan Investigasi / Kausalitas
Kelas :
|
KD |
Indikator
TP |
Pengayaan |
|
Metode |
||
|
|
Menyusun teks laporan yang
menjelaskan hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang logis disertai dengan
argumen yang kuat untuk meyakinkan pembaca.
|
a.
Metode : Eksplorasi / Proyek
Mandiri (Investigasi) Peserta didik bertindak sebagai "Penyusun Laporan Investigasi". Mereka diminta mengamati fenomena di lingkungan sekitar (misal: penyebab tumpukan sampah, alasan kemacetan, atau fenomena sosial), melakukan wawancara dengan narasumber terkait untuk mencari argumen/fakta, lalu menyusunnya menjadi teks laporan yang komprehensif. b. Perencanaan 1.
Program
pengayaan direncanakan dan dikomunikasikan secara langsung saat proses
pembelajaran reguler selesai (bagi siswa yang sudah tuntas/mencapai KKTP). 2.
Guru
mempersiapkan panduan singkat (rubrik proyek) terkait sistematika laporan
investigasi sederhana. 3.
Guru
memberikan contoh cara mengubah kutipan wawancara (kalimat langsung) menjadi
narasi laporan (kalimat tidak langsung) untuk memperkuat argumen kausalitas 4.
Penugasan
dilakukan di luar jam pelajaran efektif (tugas mandiri terstruktur).
c. Proses Pelaskasanaan Aktivitas yang dilakukan 1.
Eksplorasi
& Pemilihan Topik:
Peserta didik
memilih satu fenomena sebab-akibat yang terjadi di sekolah atau lingkungan
rumah mereka. 2.
Pencarian
Data: Peserta didik
menghubungi dan mewawancarai narasumber yang relevan/memiliki kapasitas
(misal: penjaga sekolah, ketua OSIS, atau tokoh masyarakat setempat) untuk
menggali fakta. 3.
Penyusunan
Laporan: Siswa merangkai data
hasil pengamatan dan wawancara menjadi sebuah teks laporan investigasi yang
utuh, logis, dan runtut. 4.
Penerapan Kaidah Bahasa: Siswa secara sadar menggunakan variasi kalimat langsung (mengutip
pernyataan persis narasumber) dan kalimat tidak langsung dalam laporannya. 5.
Publikasi: Hasil tulisan laporan dipajang di mading kelas/sekolah atau
dibacakan di depan kelas sebagai bentuk apresiasi.
|
I. Referensi
1. Nurhijatina,
H., dkk. (2023). Analisis Classrooms Assessment: Remedial, Pengayaan,
Pendekatan Acuan Patokan (PAP) dan Pendekatan Acuan Normatif (PAN). Jurnal
Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri.
2. Soviana,
dkk. (2025). Penerapan Instrumen Remedial-Pengayaan Melalui Teks Naratif
"Ketulusan" Upaya Peningkatan Menyimak dan Komunikasi Kelas VI. YASIN:
Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya.
3. Badan
Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP). (2025). Panduan
Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar,
dan Jenjang Pendidikan Menengah (Edisi Revisi). Jakarta: Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
